MATARAM — Fakultas Kedokteran Universitas Muhammadiyah Mataram (FK UMMAT) menyelenggarakan Kuliah Pakar bertajuk “Antimicrobial Resistance (AMR): Tantangan Praktik Kedokteran dalam Perspektif One Health” pada Jumat, 11 September 2026. Kegiatan berlangsung di Ruang Teater FK UMMAT dan diikuti oleh seluruh mahasiswa FK UMMAT Angkatan 2025.
Kuliah pakar menghadirkan Prof. Dr. apt. Ika Puspita Sari, S.Si., M.Si., Guru Besar Farmakologi dan Farmasi Klinik Fakultas Farmasi Universitas Gadjah Mada (UGM) sekaligus Direktur Sumber Daya Manusia (SDM) dan Akademik Rumah Sakit Akademik UGM (RSA UGM), sebagai narasumber.
Kegiatan diawali dengan sambutan sekaligus pembukaan oleh Dr. dr. Fauzy Ma’ruf, Sp.Rad, Subsp.RI(K), SH., MH., M.Kes., Pj. Dekan Fakultas Kedokteran UMMAT. Dalam kesempatan tersebut, ia menyampaikan pentingnya penguatan wawasan mahasiswa kedokteran mengenai resistensi antimikroba sebagai salah satu tantangan serius dalam praktik pelayanan kesehatan.
Memasuki sesi utama, Prof. Ika Puspita Sari menyampaikan materi berjudul “One Health dalam Pengendalian Resistensi Antimikroba”. Materi membahas ancaman Antimicrobial Resistance (AMR) secara global, dampaknya terhadap kesehatan dan ekonomi, serta pentingnya pendekatan One Health dalam upaya pengendalian resistensi antimikroba.
AMR menjadi salah satu tantangan kesehatan global yang semakin serius. Berdasarkan data yang dipaparkan dalam kuliah pakar, pada 2019 resistensi antimikroba secara langsung menyebabkan sekitar 1,27 juta kematian dan berkaitan dengan 4,95 juta kematian secara global. Dampaknya diproyeksikan semakin besar apabila tidak ditangani secara komprehensif, dengan perkiraan hingga 10 juta kematian per tahun pada 2050.
Dampak AMR juga menjadi perhatian khusus pada kelompok anak. Sekitar satu dari lima kematian yang berkaitan dengan AMR terjadi pada anak berusia di bawah lima tahun. Kondisi tersebut menunjukkan bahwa resistensi antimikroba bukan hanya persoalan klinis, tetapi juga menjadi tantangan kesehatan masyarakat.
Dalam pemaparannya, Prof. Ika juga menjelaskan klasifikasi patogen prioritas yang ditetapkan World Health Organization (WHO), yakni kategori Critical, High, dan Medium. Salah satu patogen yang masuk kategori Critical adalah Acinetobacter baumannii yang resisten terhadap karbapenem atau Carbapenem-Resistant Acinetobacter baumannii (CRAB).
Di Indonesia, prevalensi CRAB yang dipaparkan dalam materi mencapai 71 persen berdasarkan data Global Antimicrobial Resistance and Use Surveillance System (GLASS). Pasien yang mengalami infeksi CRAB juga memiliki risiko mortalitas lebih tinggi dibandingkan pasien dengan A. baumannii yang masih sensitif terhadap karbapenem. Selain itu, biaya perawatan pasien CRAB disebut dapat mencapai sekitar 1,5 kali lebih mahal.
Pembahasan juga mencakup berbagai kejadian luar biasa akibat patogen resisten, termasuk kasus A. baumannii dan Klebsiella pneumoniae di ruang perawatan intensif neonatus atau Neonatal Intensive Care Unit (NICU). Kejadian tersebut dapat memicu infeksi nosokomial dan kematian, terutama ketika diperburuk oleh praktik Pencegahan dan Pengendalian Infeksi (PPI) yang belum optimal, kondisi ruang yang melebihi kapasitas, serta persoalan kebersihan lingkungan dan kualitas air.
Selain bakteri, perkembangan patogen jamur juga menjadi perhatian. Salah satunya adalah Candida auris, jamur patogen yang dikenal memiliki tingkat resistensi tinggi terhadap obat antijamur. Materi juga menyinggung ditemukannya pembentukan biofilm pada pasien dengan ulkus diabetes melitus yang dapat menjadi salah satu faktor yang menyulitkan penanganan infeksi.
Lebih lanjut, Prof. Ika menjelaskan bahwa pengendalian AMR membutuhkan strategi yang tidak hanya berfokus pada pasien, tetapi juga memperhatikan hubungan antara manusia, hewan, dan lingkungan. Pendekatan inilah yang menjadi dasar konsep One Health.
Pendekatan One Health mengintegrasikan aspek kesehatan manusia, kesehatan hewan, dan kesehatan lingkungan. Penggunaan antimikroba pada sektor peternakan dan perikanan, misalnya, dapat berkontribusi terhadap munculnya residu obat dan bakteri resisten yang kemudian berpotensi menyebar kepada manusia melalui bahan pangan, tanah, maupun air.
Dalam materi disebutkan hasil penelitian di Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY) yang menemukan sampel ayam sebesar 11,3 persen, ikan 15,65 persen, dan telur 0,87 persen positif mengandung residu antibiotik. Temuan tersebut memperlihatkan bahwa pengendalian penggunaan antimikroba perlu dilakukan secara lintas sektor.
Upaya pengolahan pangan juga dapat membantu menurunkan kadar residu antibiotik. Beberapa metode pengolahan, seperti merebus, memanggang, dan menggunakan microwave, disebut dapat menurunkan kadar residu antibiotik pada daging ayam dan telur.
Pada tingkat nasional, strategi pengendalian AMR periode 2025–2029 mencakup empat pilar utama, yaitu pencegahan melalui WASH (Water, Sanitation, and Hygiene), akses terhadap layanan kesehatan esensial, diagnosis tepat waktu, serta pengobatan yang tepat. Strategi tersebut diperkuat dengan tiga landasan, yakni tata kelola dan edukasi, surveilans dan penelitian, serta evaluasi eksternal.
Strategi tersebut mencakup berbagai kegiatan yang menempatkan pengendalian AMR sebagai agenda bersama dan membutuhkan keterlibatan berbagai sektor.
Dalam konteks praktik kedokteran, tenaga kesehatan memiliki peran penting dalam mencegah dan mengendalikan resistensi antimikroba. Salah satunya melalui penggunaan obat secara rasional serta memastikan antibiotik digunakan sesuai indikasi dan tidak diperoleh secara bebas tanpa resep dokter.
Penguatan Interprofessional Collaboration (IPC) juga menjadi bagian penting dalam pengendalian AMR, khususnya melalui program Penatagunaan Antimikroba (PMA) dan Pencegahan dan Pengendalian Infeksi (PPI). Kolaborasi antarprofesi diperlukan agar penggunaan antimikroba dapat dilakukan secara tepat sekaligus menekan risiko munculnya resistensi.
Melalui Kuliah Pakar ini, mahasiswa FK UMMAT diharapkan memperoleh pemahaman yang lebih komprehensif mengenai AMR serta mampu melihat persoalan resistensi antimikroba tidak hanya dari perspektif klinis, tetapi juga dalam keterkaitannya dengan kesehatan hewan dan lingkungan.
Kegiatan ini sekaligus menjadi bagian dari upaya FK UMMAT dalam memperkuat pembelajaran kedokteran yang relevan dengan tantangan kesehatan global dan membekali mahasiswa dengan wawasan yang dapat diterapkan dalam praktik kedokteran di masa mendatang.
Professionalism is Our Priority.